Inspirasi Kamar Mandi

Nulis sekenanya.

Beli di warung

Belakangan sedang marak campaign “belanja di warung tetangga” di media sosial. Saya kurang begitu paham tujuan campaign tersebut, tapi yang pasti campaign ini penting buat ‘menghidupkan’ lagi warung-warung kecil, di tengah banyaknya mart atau convenience store yang menjamur.

Harus diakui, saya merasakan banyak benefit kalau belanja di mart. Tempat nyaman, bebas memilih sesuka hati dan hampir semua kebutuhan tersedia. Tidak mengherankan jika kebanyakan dari kita memilih belanja di mart dibanding di warung. Contoh paling sederhana kalo kita lagi di jalan dan merasa haus. Apa yang ada dalam benak kita mungkin adalah pergi ke mart terdekat beli minuman.

Saya jadi teringat nasehat ibu saya. Prioritaskan beli barang di warung. Berbelanja di mart memang mudah, tapi tidak harus selalu, begitu nasehatnya. Seakan-akan ini menjadi value keluarga. Ibu saya menyarankan daripada beli pulsa di ATM, lebih baik beli di counter tetangga. Daripada beli sabun di mart, lebih baik beli di warung depan dan seterusnya.

Apa yang mendasari nasehat ibu saya, kemungkinan besar karena keluarga kami dulu memang pernah buka warung kelontong. Waktu itu karena orangtua masih jadi guru honorer, jadi butuh biaya untuk membelikan susu saya waktu kecil. Mungkin begitu juga warung-warung di sekitar kita, they make money for living, not to buy expensive things.

Setelah kembali sadar, saya kini lebih sering belanja di warung. Walaupun sekedar membeli sabun deterjen atau teh botol. Tapi kalau kita niatkan untuk sedekah juga, insha Allah jadinya nanti barokah. *Azeeeeek

Menurut saya, hal ini seharusnya bukan hanya sekedar campaign, namun harus dijadikan gaya hidup masyarakat. Karena sebagian besar orang membuka warung untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya.

Kreatif dalam Kado Ultah

“Jangan jadi excuse karenan lingkungan yang tidak kreatif, namun lihatlah mata kita supaya peka melihat hal-hal kreatif di sekitar. Ambil inspirasinya, jangan copy paste” Yoris Sebastian

Lagi-lagi Yoris memberikan suntikan positif bagi saya untuk menulis cerita di pagi ini. Lewat milis tiap hari Senin kali ini, Yoris bercerita tentang pengalamannya ketika menjadi pembicara di perusahaan consumer goods. Dia bilang, tidaklah harus memiliki design kantor yang kreatif agar karyawannya bisa lebih kreatif. Namun yang paling penting adalah mempunyai mata baru (new eyes) yang dapat mengkonversi hal sederhana menjadi barang yang kreatif.

Couldn’t agree more.

Aku pernah sesekali mencoba, sekitar bulan September 2015 lalu, sesaat setelah saya dinyatakan lulus dari kampus, saya ingin memberikan kado kepada teman dekat yang kebetulan berulang tahun di bulan itu. Yang ada di pikiran saya waktu itu adalah mau ngasih sesuatu yang sederhana tapi unik. Sederhana yang dimaksud adalah tidak harus barang mahal harganya. Unik yang maksud adalah sesuatu yang sifatnya personal tapi message-nya tetep dapet.

Hal yang muncul ketika itu adalah memberi hadiah berupa buku Tugas Akhir saya. Agak jarang Aha! momen nya karena inspirasi datang pas lagi naik motor. Tapi memberi hadiah Tugas Akhir akan sangat absurd JIKA DAN HANYA JIKA saya ngasih buku tersebut gitu aja, tanpa ada sentuhan personal ke orang yang dituju.

Lantas saya berniat memberikan beberapa kata manis di satu lembar persembahan dan sedikit editing di cover bukunya.

Bagi yang sering bikin laporan tugas kuliah, kan biasanya di cover depan ada tulisan tuh.

“Laporan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah A B C…”

Agar lebih personal, bagian tersebut diedit menjadi…

Jpeg

*Ada sedikit rasa malu pas ngejilid karena mas-mas fotokopiannya sempet liat ‘tulisan alay’ di cover depan. Haha

Dan reaksi setelah doi terima hadiah tersebut adalah…

Screenshot_2016-03-07-09-43-00_1

Dont be surprised dengan kata ‘Om’ di situ. Bukan ‘Om-om’ yang begitu itu di luar sana kok, hanya sekedar sapaan seru-seruan saja.haha

Saya mengira, mungkin hal yang menyentuh baginya adalah apa yang saya tulis di satu lembar persembahan. Saya banyak bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan kami berdua. Dan menurutku itu yang jadi kekuatan kalo kita mau ngasih barang ke orang, personal thing.

See? Dalam hal-hal kecil pun, kita sebenarnya bisa mengaplikasikan hal kreatif dengan cara sederhana dan cara kita sendiri.

Tentang Basa-basi

Saya setuju kalo ada yang bilang

“semua hal itu butuh proses. Ngga bisa langsung”

Kayak misal, seorang cowok suka sama cewek. Si cowok kan biasanya mulai dari kenalan, minta nomer whatsapp, lanjut nge-date dan seterusnya dan sebagainya. Mustahil si cewek bakal nerima cinta si cowok tiba-tiba gitu aja tanpa ada ngobrol-ngobrolnya dulu. Selalu ada proses.

Dalam pertemanan pun iya. Selalu ada fase di mana kalian mulai dari kenalan, ngobrol biasa, maen bareng, sampai ke fase di mana kalian sama-sama udah ngga jaim lagi buat ngelakuin hal-hal gila. Proses kecocokan dan nyambung pun terjadi ngga cuma karena kesamaan atribut, tetapi kadang konflik benturan ego-ego pun terlibat. Dan proses-proses itu juga bisa dimulai dengan hal-hal yang ngga penting, dalam hal ini aku pake istilah basa-basi.

Saya sendiri orangnya lebih to the point. Dalam kehidupan sehari-hari misal, kayak pas lebaran, aku lebih mending main laptop di kamar daripada ngumpul rame-rame.

Tapi, menurutku basa-basi itu penting juga men. Kayak misal kita mau kosan temen minjem sepatu futsalnya misal. Kan ngga asik, kalo tiba-tiba dateng ambil sepatunya abis itu udah pergi aja. Ya walopun hal kayak gitu sah-sah aja, tapi di dunia ini selain ada kata ‘benar’ juga ada kata ‘pantas’. Dan menurutku kayak gitu itu kurang pantes lah.

Ini kata temenku, basa-basi itu ibarat pintu kalo mau bertamu ke orang. Jadi kayak semacam kulonuwon-nya. Dan waloupun terlihat simpel, kayak misal sekedar nanyain kabar, orang lebih diajeni (dihargai) keberadaannya, katanya temen juga.

Nah, sementara itu banyak orang yang mengalami kendala untuk berbasa-basi. Akupun begitu. Kadang masih kikuk kalo ketemu orang baru. Entah, banyak yang bilang saya ini aneh. So kayak ada rasa ngga pede dan canggung buat mengeluarkan diri kita yang sebenarnya. Entah kenapa selalu overthink,

“kalo misal aku basa-basi pake becandaa gini, kalo garing, mereka gimanaa yaa” Ya pokoknya gitu-gitu lah.

Jadi saya lebih memilih untuk observe dulu gimana mereka, baru saya menyesuaikan diri. Menurut kalian ini bener apa engga (?)

Karena kalo menyesuaikan, kadang ada rasa ngga nyaman. Biasanya kalem, kadang harus outspoken. Biasanya blak-blakan, sekarang harus lebih hati-hati.

Aku pernah ada pengalaman di mana aku berusaha mem-push diri sendiri untuk banyak basa-basi. Kejadiannya pas di konferensi yang diceritain sebelumnya. Di mana saya adalah orang Indonesia sendiri di acara tersebut. Tanpa kenalan, bahasa Inggris pas-pasan. Pikirku, bisa mampus nih kalo sampai akhir acara ngga punya temen. Bisa mati kesepian.

Saya paksakan kenalan dengan mereka. Dan ternyata menyenangkan. Hanya butuh keberanian untuk memulai say “hi”. Obrolan pun berlanjut dengan me-market-kan diri sendiri dan negera tercinta Indonesia ke mereka. Dan hasilnya luar biasa. Bahkan sepanjang acara pun kenalan bisa terjadi di mana saja. Dari ruang tunggu sampai dengan orang yang lagi sama-sama pipis di toilet.

Lagi-lagi Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Karena berawal dari situ, tak jarang juga banyak teman yang tiba-tiba bawain burger, teman-teman yang ngajak makan siang, teman jalan keliling kota. Sebuah prestige juga bagi saya, karena bisa ngobrol-ngobrol juga bareng teman-teman dari kampus tokcer dunia macem Harvard, Stanford, British Columbia dan lain-lain. *alay

Dari situ aku mulai sedikit lebih terbuka dengan orang-orang baru, termasuk berbasa-basi dengan siapapun. Selamat berproses juga.

#nowplaying Biru – Efek Rumah Kaca

Target Tahunan

16072011(030)

Bosphorus, Istanbul, 2011

Bang! Selamat Tahun Baru 2016. Semoga tahun ini lebih baik. Amiin

Awal tahun selalu identik dengan membuat target tahunan. Ada yang ingin liburan ke luar negeri, membaca buku-buku, ingin menikah, rajin berolahraga dll. Menurutku, membuat target itu selalu menarik, karena kita bebas dan gratis.

Saya teringat awal tahun 2013 (masih semester 4) punya mimpi untuk pergi ke luar negeri sendirian. Random sekali. Waktu itu belum jelas ke mana tujuannya, berapa lama dan mau ngapain di sana. Nothing to lose aja pas nulis target.

Kemudian saya iseng-iseng mengikuti kompetisi menulis yang diadakan beberapa PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia), mengikuti konferensi dan mencari informasi kesempatan magang di luar negeri. Jadi bisa dibilang kompetisi/lomba tersebut cuma alat, biar bisa ke luar negeri. Saya tidak mau muluk-muluk waktu itu. Hanya jalan-jalan.

Gagal, gagal dan gagal. Ternyata tak semudah itu. Saya gagal di belasan bahkan pulusan kompetisi. Sempat merasa males ikutan ajang iseng-iseng berhadiah, tapi karena sering gagal jadi baper.

Sampai pada bulan September 2013, saya iseng lagi buat daftar satu konferensi lagi di luar negeri. Tetep mengedepankan mode nothing to lose karena kalaupun ketrima, tidak tahu duit dari mana buat beli tiket pesawat. Tabungan juga pas-pasan.

Satu bulan setelahnya menerima email, bahwa saya mendapatkan financial aid untuk hadir di sebuah konferensi tentang regulasi telekomunikasi. (Dari situ saya mulai tertarik dengan hal-hal berkaitan dengan regulasi, bisnis digital dan lain-lain). Tapi saya tidak bisa langsung senang karena masih perlu butuh uang untuk ke sana. Di situlah jalan mulai terbuka. Alhamdulillah berkat usaha dan doa selama 3 bulan, uang bisa terkumpul dan bisa berangkat.

Pergi sendiri

Oya, terkait pengalaman pergi ke tempat jauh sendirian, aku pikir, semua orang (at least sekali seumur hidup) harus coba ini deh. Kenapa? Menurutku going somewhere yang kita belum pernah dijelajahi benar-benar memaksa kita jadi pribadi yang berbeda dari biasanya. Kalo kita mungkin terbiasa settle ngumpul dengan teman2 yang punya banyak kesamaan, pergi sendirian menantang kita untuk membaur dengan budaya, orang-orang baru yang dijumpai, walaupun mereka berbeda dengan kita. Dulu saya terbiasa cuek dengan orang-orang baru. Tapi sepanjang melakukan perjalanan di negara orang, saya justru melihat banyak orang suka untuk sekedar berbasa-basi di dalam lift, kedai kopi atau di opening ceremony konferensi yang diikuti. Dari situ saya mulai memberanikan diri, ya sekadar basa-basi dengan orang-orang di jalan.

Ternyata, melakukan perjalanan sendiri itu juga pembelajaran. Kita dihadapkan dengan kesendirian yang harus ditaklukan. Termasuk menaklukkan perasaan was-was, takut dan kesepian. Namun Tuhan Maha Menjaga, asal niat baik, pasti banyak orang-orang baik di sepanjang perjalanan. Yakini itu.

Untuk tahun ini, salah satu target saya adalah mengunjungi teman-teman SMA yang kuliah di Turki. Belum tahu duit dari mana. Tapi semoga bisa tercapai tahun ini. Sekali lagi, selamat tahun baru !

Mourinho Sacked : EPL is Less Exciting (?)

mou

“EPL is less exciting.. Sad day.” Goal.com reader

Berita mengejutkan datang Kamis malam (17/12/15), untuk kedua kalinya Mourinho dipecat Chelsea. Sedih.

Tapi anehnya begitu Mourinho dipecat, Chelsea langsung menang 3-1 lawan Sunderland akhir pekan lalu (19/12/15). Sebagai fans Chelsea saya melihat ada emosi campur aduk, antara senang dan sedih, baik yang dialami pemain maupun suporter di Stamford Bridge.  Read the rest of this entry »